Proyek-proyek Berjalan

Lama tak ada update.

Sudah berapa? Tiga tahun sejak postingan sebelumnya? Mungkin aku sudah jadi orang yang lebih dewasa. Kurasa, meski sampai sekarang pun, cita-cita untuk bisa menulis sesuatu yang bagus masih belum hilang.

Memang agak susah mengumpulkan motivasi.

Dalam beberapa tahun belakangan, kurasa yang kulakukan cuma menyempurnakan kemampuan berkomunikasiku secara tertulis. Aku cuma (relatif) aktif ngeblog. Lebih jarang mengetik cerita. Tapi sekitar beberapa bulan lalu, aku mulai aktif mengerjakan sesuatu lagi.

…Rasanya kayak aku memperoleh lompatan kemampuan sesudah lama menyepi.

Sudah ada banyak teman-teman lamaku dari Kemudian.com yang sudah menerbitkan karya. Tapi aku yang sekarang, kelihatannya masih belum juga cukup puas untuk menerbitkan sesuatu.

Tapi, yah, sudahlah.

Jadi, ada dua proyek utama yang ingin kuselesaikan sekarang.

  1. Proyek Sulanjana, nama kode untuk ver. PASTE dari Saat Untuk Menghilang.
  2. Proyek Suryalaya, nama kode untuk versi revisi dari Croissant Kosong.

Yeah, ini semua proyek lama yang sudah berusia lebih dari lima tahun. But I think I’ve got the hang of it now. Aku berharap Proyek Sulanjana bisa tuntas sebelum pertengahan tahun ini. Sedangkan untuk Proyek Suryalaya… entah ya, aku selalu ngerasa itu bisa kubikin secara gampang, asal ikan yang gede ini udah beres dulu aku masak.

Kemajuan pengerjaanku sudah lumayan kalau dibandingkan dengan bertahun-tahun lalu.

Yah, masih terlalu cepat buat ngomong apa-apa sekarang. Jadi lihat saja hasilnya nanti.

Cerbul KasFan Mei 2013

Judulnya: Kunjungan Pertama.

Link ke cerita: https://www.goodreads.com/topic/show/1329541-lomba-cerbul-kasfan-mei-13?page=2#comment_75945111

Catatan ini mudah-mudahan akan menjadi yang pertama dari rentetan catatan panjang tentang pengalaman-pengalaman menulis (fiksi) saya.

Menyusul masalah blok parah yang kualami dalam tahun-tahun terakhir, ajang cerita pendek bulanan yang diadakan oleh komunitas Kastil Fantasi menjadi satu dari sekian sedikit alasan yang memotivasiku untuk menjaga agar teknik menulisku tak tumpul.

Cerita di atas sendiri mudah-mudahan menjadi yang terakhir dari sekian banyak cerita pendek yang kutulis secara ‘seenaknya’ di ajang ini. ‘Seenaknya’ dalam artian, waktu menulisnya, kupikir, ‘Yang penting aku tulis dulu. Bagus atau enggaknya kupikir belakangan!’ Tapi walau untuk ajang bulan Mei ini aku mencoba menulis lebih sungguh-sungguh dari biasanya (syarat pilihan buat bulan ini, ngomong-ngomong adalah genre slice of life). Tapi tetap saja hasilnya enggak bagus.

Kalau kupikir, aku cukup beruntung juga karena akhirnya ada juga yang secara terang-terangan mengkritik dan menyatakan kalau mereka enggak suka gaya tulisanku. Pengalaman itu membuatku nyadar, kalau mungkin emang enggak cukup bila kita cuma menulis buat diri sendiri. Kita juga mesti banyak mempertimbangkan pikiran orang lain. Dengan begitu, kita juga bisa lebih memahami mereka, dan dengan gitu memudahkan kita juga dalam berinteraksi dengan mereka.

(Yah, semenjak pertama kali nyoba ikutan, aku emang ga pernah bener-bener nulis serius buat ajang ini. Makanya enggak aneh juga kalau aku terasa nge-troll. Kayaknya kebiasaan-kebiasaan lama emang susah diilangin.)

Bicara soal ceritanya sendiri, aku nggak ahli dalam genrenya. Jadi aku coba menemukan intepretasiku pribadi. Hasil yang kudapat adalah ‘Gimana kalo aku coba nampilin kehidupan sehari-hari karakter-karakter yang pernah kubikin cuma enggak dalam lingkup plot?’

Pada satu titik, aku sempet enggak nyadar. Apa genre slice of life perlu plot? Bukannya kalau ada plot justru itu bukan slice of life? Apa kita bahkan bisa nemuin semacam plot dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri?

Intepretasi berbeda-beda dari tiap orang itu yang kemudian kusadari bisa jadi kesulitan terbesar lomba bulan ini.

Tapi what the heck. Kayak sebelumnya, yang penting aku tulis aja.

Buat di awal, aku coba jabarin dulu latar yang menurutku pas. Cuaca Bandung lagi dingin dan banyak hujan waktu itu. Makanya aku membuat ceritanya berlatar waktu di akhir pekan menjelang apa yang kayaknya adalah badai.

Oya, ngomong-ngomong, soal para karakternya. Mereka semua berasal dari salah satu konsep ceritaku yang dari dulu enggak pernah berhasil kuapa-apakan, yang judulnya adalah Progress Report. Ini cerita yang… agak susah kujelasin. Genrenya mungkin kombinasi kehidupan SMA dan sains fiksi gitu, dalam sebuah dunia yang sekilas modern namun sebenarnya dibangun di atas puing-puing dunia sebelumnya. Rencananya, ada dua sudut pandang cerita yang mau diambil. Tapi dari dulu yang baru kebayang masih cuma satu. Yakni dalam hal ini, sudut pandang sang karakter utama, Faris. Lalu yang satu itu yang coba kukembangin jadi cerpen buat ajang ini.

Kelemahan-kelemahan yang belakangan kutemukan, kelihatannya Faris jadi agak berubah karakternya di cerpen ini dibandingkan dengan pada konsep aslinya. Kelihatannya, setting karakter utama default di kepalaku beraksi lagi. Di samping itu, rupanya enggak gampang menjabarkan kondisi keluarga Faris yang rumit hanya dari sebuah cerpen (ayahnya menghilang tanpa ia sadari, lalu ibunya menunjukkan gejala-gejala dementia, ditambah lagi dia punya pelayan pribadi yang sekaligus jadi teman sekelasnya sendiri). Belum lagi kondisi dirinya di sekolah, terutama seputar teman-teman dekatnya, Anton dan Fathyn, sekaligus juga pertemuannya dengan si murid baru, Kartia, yang dalam konsep cerita aslinya, bersaing dengan Nedya dalam menjadi penggerak buat banyak hal.

Tapi kalau bicara soal pengalaman menulisnya sendiri, kurasa ini kali pertama aku berhasil memasuki dunia Progress Report buatanku sendiri secara detil dan memuaskan. Aku mencoba menikmati prosesnya. Aku mencoba mengambil contoh dari buku kelima seri Mahouka Koukou no Rettousei yang merupakan kumpulan cerita pendek, yang diterjemahkan di situs Baka-Tsuki.

Ya, ceritanya dari awal sampai akhir enggak begitu jelas. Lalu aku juga rada tertekan saat harus menjabarkan apa-apa yang terjadi. Terutama soal alasan sebenarnya dari kunjungan Kartia serta kenapa ini jadi sesuatu yang merupakan sebuah hal besar walau sebenarnya bukan bagi Faris.

Soal ‘kejadian’ yang dialami oleh Faris dan Kartia (dan Nedya) dalam cerita ini, sebenarnya itu mengacu pada sebuah kejadian dalam cerita utama. Kejadian apa itu, terus terang, aku juga sebenarnya belum kepikiran. Tapi seperti dalam ide awalnya, kurasa itu sesuatu yang melibatkan alien.

Lalu karakter baru yang menemani Kartia, Pak Blademan, buset, itu karakter yang benar-benar kepikiran di saat-saat akhir. Oya, di bayanganku, namanya bukan dibaca ‘be-lei-de-man’ melainkan ‘bla-de-man.’ Dari rasa mana nama kayak gitu berasal, sudahlah, ga usah terlau dipikirkan. Yang penting kesan yang ingin kutonjolkan dari dirinya adalah seperti itu.

Akhir kata, ini lagi-lagi sebuah kegagalan. Tapi ini tetap mulai menyenangkan.

Seenggaknya, 145 sendiri menilai bahwa dari semua cerita yang muncul di bulan tersebut, ini merupakan cerita paling slice of life dari semuanya.  Itu penghiburan paling besar yang bisa kudapetin.

Tentu saja aku suka ceritanya dia juga. Aku hampir selalu suka cerita-ceritanya dia.

Normalnya, aku yakin tokoh utamanya dan gadis Santa itu bakal ketemu lagi. Tapi ya sudahlah.

(Judulnya… gagal. Mungkin suatu hari akan kuganti.)

Tentang ‘Dunia Dalam Berita’

 

Sampai Ihsan Abdul Aziz tiba-tiba mem-follow blog ini, aku sepenuhnya lupa kalau blog ini bahkan ada!

Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin aku bisa sampai lupa? Apa-apa saja yang telah kulakukan dalam waktu-waktu senggang ini?

Gimanapun, mengingat Fantasy Fiesta 2012 telah diadakan, mungkin ada baiknya aku pakai kesempatan ini buat ngobrol ngalor-ngidul lagi. Tapi sebelum itu, izinkan aku melempar bom dulu.

 

<a href=”http://kastilfantasi.com/2012/07/dunia-dalam-berita/“>

<img title=”Dunia Dalam Berita – karya Anindito Alfaritsi” src=”http://kastilfantasi.com/wp-content/uploads/2012/07/BadgeFF2012-220-216×300.jpg” alt=”” width=”216″ height=”300″ /></a>

 

 

(Kayaknya bom gagal.)

Jadiii, ceritanya, Fantasy Fiesta 2012 sudah diadakan. Dan ajang tahun ini dilakukan dengan cara yang lebih matang dibandingkan sebelumnya. Bila kau mengklik gambar kucing di atas, kau akan terbawa ke cerita yang kukirim untuk ajang itu tahun ini.

Hmm. Sejujurnya, buat tahun ini aku sempat berpikir buat menuntaskan Lintasan Langit Sagittarius dari tahun lalu. Aku beneran penasaran dengan premis mecha-nya. Tapi sesudah berpikir sampai ke detil rincian dunia dan sumber-sumber penyebab konfliknya, aku mendadak malas, merasa tak bisa menemukan penyelesaian yang bagus, tak bisa menemukan karakter-karakter pendukung yang tak dangkal, dan, yah, mengabaikannya lagi.

Maka dari itu, beberapa minggu menjelang deadline, aku akhirnya malah menulis Dunia Dalam Berita.

Ini cerita yang kutulis secara agak licik, karena lagi-lagi menggunakan gaya khas POV 1 yang kuperoleh dari hasil mengerjakan Saat Untuk Menghilang. Jadi ceritanya benar-benar tak bisa dibilang merupakan cerita yang penting ataupun berarti. Ceritanya tentang… hmm, gimana ya? Lebih ke slice-of-life gitu, kalo enggak bisa disebut cerita cinta. Dan hal-hal yang luput terjelaskan dalam cerita bisa kusalahkan adalah akibat kenyataan bahwa sang protagonis adalah seorang unreliable narrator. (Oke, oke! Kenyataannya emang karena batasan jumlah katanya! Puas?)

Tapi daripada para tokohnya sendiri, perkenalan yang dilalui oleh para tokoh utamanya sebenarnya tak lebih dari pendorong agar si protagonis bercerita lebih banyak tentang dunianya–yang sebenarnya menjadi sorotan utama dari cerita ini.

Buat kalian yang gemar menonton TVRI pada pukul sembilan malam di dekade 90-an, aku minta maaf. Aku beneran ga ada maksud khusus apa-apa kok dengan memilih judul seperti ini, selain karena alasan nostalgia doang!

Pada waktu tulisan ini kubuat, ceritaku masih belum tayang di situs KasFan jadi aku masih belum tahu tanggapan orang-orang atas ceritaku. Tapi aku nyantei aja. Sebab gimanapun, aku lagi ada ikan lebih besar yang perlu kumasak.

Oh ya. Soal awal mula dibuatnya cerita ini sendiri. Sebenarnya, idenya berasal dari ide awal tentang cara perkenalan kedua tokoh utama terkait. Tapi bayanganku saat itu lebih ke sebuah cerita mahou shoujou daripada sebuah cerita kayak… gini. Masalahnya, karena aku enggak bisa memunculkan ide-ide lanjutan untuk mengembangkan ide awal tersebut (hubungan segitiga aneh antara si cowok, si cewek, dan ibu si cewek), aku akhirnya menguap lebar-lebar dan memutuskan untuk memasukkan sesuatu yang sama sekali lain: nuansa dunia yang terbayang di kepalaku pada saat melihat promo Girl’s Work yang tengah dikerjakan TYPE-MOON.

…Hmm. Ya sudahlah. Aku malas membahas soal ini lagi.

Ini lagi-lagi bukan sebuah cerita yang akan kubanggakan.

Tapi… gila juga ya? Sama kayak ajang FF lalu, aku kembali menyampaikan begitu banyak hal hanya dalam batasan 3000 kata. Meski kali ini, aku melakukannya tanpa ada obsesi untuk melakukannya atau gimana. Karenanya, cerita ini bukan jenis cerita yang bisa dinikmati kalau enggak pelan-pelan. Yah, intinya, pada akhirnya, di FF tahun inipun, aku kembali melakukan hal yang sama dengan yang pernah kulakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi hasilnya kali ini tak sampai mengganggu pikiranku.

Apa ini pertanda kalau aku sudah imba?

Ataukah aku begini lebih karena aku lagi ada lebih banyak urusan lain yang belum beres?

Yah, sudahlah. Hahaha.

Tentang ‘Kota Akhir Bahagia’

Fantasy Fiesta 2011 sudah memasuki hari-hari terakhir. Jadi mungkin ada baiknya aku menulis sesuatu tentang ceritaku yang satu ini.

Kota Akhir Bahagia, atau yang belakangan kupikir untuk kunamai ulang Akhir Bahagia diYvsa, adalah cerita ketiga yang kubuat untuk ajang FF 2011. Cerita yang pertama, drama sains fiksi sekaligus cerita hantu Lintasan Langit Sagittarius, berakhir tak terselesaikan karena masalah jumlah kata. Cerita kedua, Kaiserin Kroningham, drama sains fiksi aneh yang berujung pada suatu perkembangan Lovecraftian, juga tak kupilih karena dirasa tak memuaskan. Dan baru pada cerita ketiga ini aku merasa telah berhasil mencapai ‘sesuatu’ yang baru, yang menjadi alasan mengapa ini yang kukirimkan.

Cerita ini sebenarnya merupakan sebuah cerita utama di semesta Saat Untuk Menghilang, yang mengisahkan pengalaman sang tokoh utama, Alan Harsoyo Wiraguna, di semacam dunia mimpi di mana dirinya dan orang-orang di sekelilingnya menjadi bagian dari sebuah proyek rahasia untuk mengakhiri semua pertumpahan darah di muka bumi. Bagaimana semua konflik pasti bisa dituntaskan dengan ‘akhir bahagia’ menjadi apa yang berusaha aku angkat dalam cerita ini. Plotnya sendiri tak benar-benar beranjak ke mana-mana, dan hanya mengumbar sentimentalitas saja. Tapi dari cerita ini aku berpikiran bisa mencapai ranah-ranah cerita baru.

Jadi, Saat Untuk Menghilang merupakan cerita dengan plot ‘timpang’ karena tak didukung oleh tokoh-tokoh yang menonjol. Karena itu aku memaksakan diri mengawali cerita ini dengan perkenalan terhadap tiga sekawan dengan cara yang mudah-mudahan bisa berkesan bagi pembaca. Kayak biasa, setiap kali FF diadain, aku maksain diri buat nyoba ngelakuin hal baru gitu. Sayangnya, karena keterbatasan durasi, perkembangan ketiga sekawan itu tak benar-benar berujung ke mana-mana, sehingga yang tercipta adalah kesan yang seperti Mbak Dian bilang: ceritanya seolah belum selesai.

Yah, cerita fragmen ini memang sudah selesai sih. Dan lebih banyak soal kota Yvsa dan dunia mimpi ini maunya kueksplorasi lebih lanjut dalam kelanjutan Saat Untuk Menghilang. Tapi dengan keadaan sekarang, tak jelas kapan itu akan kulakukan.

Oh ya. Cerita ini memang berlatar seusai bagian pertama Saat Untuk Menghilang (yang belum lama ini kutuntaskan) dan sebelum bagian keduanya. Dan karena karakter-karakternya mengalami beberapa ‘modifikasi kepribadian’ selama di Yvsa, kupikir cerita ini layak kujadikan cerita lepas.

Nuansa narasi Saat Untuk Menghilang yang agak seenaknya juga dengan setengah mati berusaha kupertahankan. Tapi kurasa itu malah memberikan efek buruk bagi kualitas keseluruhan cerita.

Terus, ide tentang kota modern di senja peradaban manusia ini sebenarnya juga sudah lama sekali kumiliki. Itu termasuk dengan ide soal bagaimana dunia bisa dikuasai asalkan kau bisa menyanderai hati seorang gadis. Tapi baru ketika FF 2011 diadakan aku mendapat bayangan soal bagaimana mengolahnya, hingga akhirnya jadilah cerita ini. Aku memasukkan plotnya sebagai bagian dari Saat Untuk Menghilang, uh, mungkin sekedar karena iseng saja.

Yah, oke. Aku mesti berhenti mengambil keputusan seperti itu. Menulis Saat Untuk Menghilang benar-benar telah menjadikanku penulis yang bersikap terlalu seenaknya.

Kembali ke bahasan utama, aku sama sekali tak berharap untuk menang dengan cerita ini. Syukur-syukur masuk sebagai salah satu cerpen yang terpilih untuk kumcer. Aku cuma merasa… ini cerita yang layak kubanggakan karena menandai salah satu breakthrough-ku sebagai penulis. Baru sekali ini ambisiku kesampaian dengan memasukkan plot sebanyak ini ke dalam batasan 3000 kata. Mungkin aku terlalu terbawa euforia, dan akhirnya malah bersikap tak bijaksana. Tapi aku sama sekali tak menyesal telah memilih cerita ini untuk menjadi apa yang kukirim.

Seandainya yang kukirim adalah Kaiserin Kroningham, aku merasa aku hanya akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan pada ajang FF tahun lalu. Sekalipun pada dasarnya nuansa dunia Kroningham lebih memikatku ketimbang dunia Yvsa sih.

Belum terbayangkan saat itu. Tapi kini juga aku sudah memiliki gambaran tentang bagaimana mengolah cerita ini menjadi lebih baik.

Tentang ‘Dari Leher’

Jadi, ini cerita pendek yang kubuat dalam mengikuti program Tantangan Horor Gadis Kecil yang diajukan oleh Tsukiya Arai di situs kepenulisan Kemudian.com. Sama seperti kebanyakan peserta, ini adalah pengalaman pertamaku menulis dalam genre horor, dan hasilnya–menurutku seenggaknya–lumayan hancur.

Soal tantangan yang diajukan Tsuki, dia minta siapapun yang berminat untuk membuat cerita berdurasi 4000 kata, dengan tokoh utama remaja pria berusia 15 tahun dan narasi dari sudut pandang pertama, serta mesti memunculkan hantu seorang gadis kecil yang mati secara tragis. Masa pelaksanaan program tantangan ini adalah di sekitar bulan September 2011.

Yah, soal cerita ini sendiri, aku benar-benar membuatnya dengan susah payah. Seperti yang kubilang, ini pertama kalinya aku menulis dalam genre horor. Dan meski aku nyadar penjabaran suasana memegang peranan penting, pembuatan cerita ini tetap susah juga.

Aku awalnya nyoba ngelakuin deskripsi latar secara ekstensif. Untuk pembangunan suasana gitu. Tapi hasilnya gagal total. Salah satu faktornya adalah keterbatasan jumlah kata dalam cerita sih. Tapi faktor lainnya lagi adalah gimana aku nyadar soal gimana pembaca yang ngebaca cerita horor BAKAL NYADAR SEJAK AWAL kalo mereka emang bakal ditakut-takutin. Jadi mereka udah siap-siap bakal ditakut-takutin gitu. Terus aku akhirnya ngeh bahwa yang namanya cerita horor bagus bakal tetep bisa bikin pembacanya merinding sekalipun mereka TAU mereka sedang berusaha dibuat merinding.

Satu kesulitan lain, seperti yang ditunjukkan oleh 145, adalah bagaimana aku dan dirinya adalah jenis-jenis orang yang tak tahan untuk melakukan tsukkomi di tengah pembangunan suasana horor kayak gini. Tapi kurasa itu soal yang enggak penting dibandingkan tantangan yang kuhadapi di atas. (wkkk)

Singkat cerita, aku akhirnya ngikutin nasihat temanku untuk memunculkan sedikit ‘sisi gelap’ dari diriku. Semacam… sisi yang membuat tak nyaman, yang secara terkendali bisa kita tunjukkan pada orang lain. Itulah yang kemudian aku lakukan, dan hanya dalam 4 jam, jadilah Dari Leher.

Ceritanya tentang… seorang anak yang, gampangnya, dihantui(?) sesosok gadis kecil yang pernah dijahatinya(?) di masa lalu. Tapi ada beberapa tema dewasa yang diangkat, dan parahnya ceritanya di banyak bagian agak kurang detil.

Tapi alhamdulillah, Tsuki (dan juga Snow Drop) memandang ceritaku dengan lumayan positif. Secara pribadi aku masih merasa gagal sih. Cerita ini masih belum berhasil memunculkan rasa takut. Hanya sekedar menimbulkan perasaan geli aneh seperti seusai kau menonon beberapa film besutan Alfred Hitchcock saja. Tapi kurasa itu pun untuk percobaan pertama menulis horor merupakan hasil yang patut disyukuri.

Yang pasti, semenjak ini, rasa hormatku terhadap Stephen King (yang membaca beberapa ringkasan ceritanya saja sudah membuatku merinding) langsung bertambah.

Lalu satu lagi. Saat aku mengatakan bahwa aku membayangkan figur Brian Yuzna sebagai tokoh ayah si gadis, temanku memandangku secara aneh dan mengatakan bahwa sosok Nicholas Cage mungkin lebih cocok. Lalu setelah kupikir ulang, kurasa dia ada benarnya juga. (sori, ini beneran ga penting)

Tidak. Kalau bisa, aku tidak mau berurusan dengan cerita sakit ini lagi.

Tentang ‘Saat Untuk Menghilang’

Waktu aku pertama memulainya, aku sama sekali enggak ngebayangin jadinya bakal sepanjang ini.

Berawal dari proyek gagal yang kubuat untuk Nanowrimo tahun 2009, Saat Untuk Menghilang entah gimana malah berlanjut serialisasinya di situs Kcom hingga akhirnya tamat kayak sekarang. Memang aku menamatkannya secara prematur, sehingga menimbulkan suatu perasaan campur aduk seberes aku mengetik bab terakhir. Tapi setelah kurenungkan kembali, keberhasilan menamatkan sebuah cerita sesuai keinginanku ini merupakan suatu pengalaman sekaligus pelajaran yang luar biasa.

Karena pertama dibuat sebagai proyek yang mentingin jumlah kata, bab-bab awal cerita ini diisi dengan lumayan banyak hal bertele yang gaje. Ketika bulan November tahun 2009 tahu-tahu berakhir dan Saat Untuk Menghilang baru nyampe—berapa?—belasan ribu kata, aku tiba-tiba nyadar bahwa salah satu kelemahanku dalam menulis adalah kecendrunganku untuk terlalu berhati-hati.

Aku cenderung terlalu memplot dulu cerita dan latar yang nantinya akan kubuat gitu. Bersikap perfeksionis, padahal keterampilan nulisku belum nyampe ke tingkat di mana aku bisa mengeksekusi dengan baik plot ceritaku sendiri. Maka kerjaanku sampai titik itu hanya ngedit dan ngedit saja bagian-bagian yang udah jadi dari karya-karya lama tanpa sedikitpun menambahkan bagian-bagian baru. (Kasus paling kentara soal ini adalah karyaku yang berjudul Ernarosa, tapi lebih banyak soal itu akan kuceritakan dalam postingan lain.)

Eniwei, aku akhirnya mencoba belajar dari sebuah tips menulis yang R.D. Villam pernah bubuhkan dalam blognya (Sesuatu tentang ngeluarin gajah dari kulkas? Sori, aku agak lupa detil nasihatnya apa.). Lalu aku kemudian mulai mencoba mengeluarkan terlebih dahulu segala ide yang ada dari dalam kepala, sampai ceritanya tamat, dan barulah mengedit semuanya lagi kemudian.

Saat Untuk Menghilang menjadi proyek cerita yang kupilih untuk eksperimen pembelajaran ini. Hingga jadilah Saat Untuk Menghilang berkembang menjadi cerita pertama yang ‘kuserialisasikan’ secara serius di situs Kemudian.com.

Secara pribadi, aku enggak tahu persis daya tarik bab-bab awalnya di mana. Tapi yang pasti, upaya ‘serialisasi’ ini takkan benar-benar berjalan kalau bukan karena tuntutan-tuntutan dari banyak sekali(?) teman di Kcom. Sepertinya cerita Saat Untuk Menghilang yang kukerjakan ini jenis cerita yang gampang membuat penasaran orang, meski pada awalnya aku sama sekali tak berpikiran untuk membuat cerita ini bergenre misteri. Aku juga sama sekali enggak nyangka efek penasaran yang diberikannya bakal sampai  sedalem itu. Dan tanpa kusadari, dalam jeda yang bisa berjarak antara beberapa hari sampai dua bulan, bab-bab baru Saat Untuk Menghilang tahu-tahu secara berkala kuposting di Kcom hingga akhirnya tamat seperti sekarang. Proses hingga tamat ini kurasa memakan waktu hingga tiga tahun.

Aspek misteri yang ada kurasa timbul dari akibat pertanyaan-pertanyaanku pribadi soal ke arah mana ini cerita ini bakalan kubawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, aku benar-benar menulis tanpa terlebih dahulu menyusun sebuah kerangka di dalam kepala. Yang menggerakkanku semata-mata cuma pertanyaan: “Trus, selanjutnya apa yang terjadi?” dan mungkin itulah yang pada akhirnya ngasih efek ‘penasaran’ di atas ke pembaca.

Membuat satu postingan Saat Untuk Menghilang saja kadang memerlukan perjuangan setengah mati. Karena itu, dalam pengerjaannya, aku tak peduli lagi soal koherensi ataupun deskripsi. Yang penting adalah plot, plot, plot! Dan demi itu, aku juga sampai sepenuhnya mengaplikasi subjektivitas yang terkandung pada teknik penulisan sudut pandang orang pertama—mengaplikasikan semua pelajaran pernah yang kudapat dari memainkan visual novel (terutama yang keluaran TYPE-MOON) sampai ke tingkat-tingkat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Versi Saat Untuk Menghilang di Kcom (mulai sekarang kusebut sebagai ver.COPY) sebenarnya juga adalah penggabungan dua konsep cerita yang pernah kubuat sewaktu SMA dan kuliah. Konsep cerita yang pertama berjudul serupa: Saat Untuk Menghilang! yang tentang seorang siswi SMP(!) yang mengetahui secara kebetulan keberadaan sebuah kelompok rahasia di sekolahnya. Lalu kelompok rahasia ini ceritanya berseteru dengan kelompok-kelompok rahasia lain setiap malam hari dalam memperebutkan wilayah kekuasaan di kota. (Mirip Air Gear.) Alasan kenapa mereka saling berebut wilayah sama sekali masih belum sampai kupikirkan. Konsep cerita kedua berjudul Bad Culture. Buat yang satu ini, ceritanya aku ingin membuat sesuatu mirip Shin Megami Tensei, di mana ada berbagai faksi dan konflik kepentingan beradu, yang akhirnya memuncak dengan sesuatu yang apokaliptik. Pesannya: karena kebudayaan kita sekarang yang buruk, maka lambat laun peradaban kita akan hancur. Pokoknya sesuatu seperti itu.

Ide soal pesan grafiti di atas meja itu diambil dari Saat Untuk Menghilang! versi konsep di atas. Begitu pula dengan ide soal Negliga dan Volkswang the Violent Wind. Sedangkan ide-ide menyangkut Irma Irina, perubahan wujudnya, serta plot cerita yang pekat oleh konspirasi sepenuhnya diambil dari Bad Culture.

Aku sebelumnya sama sekali tak punya niat untuk menggabungkan dua konsep tersebut. Semua itu terjadi begitu saja, dan baru aku sadari sesudah pada suatu hari aku memperhatikan ulang.

Eniwei, kini dengan berakhirnya cerita ini, gambaran tentang bentuk terbaik Saat Untuk Menghilang sudah terlihat. (Bagian ngasih makna ke cerita ngasal ini merupakan bagian paling gila.) Dan karena itu pula, dari ver.COPY, saat ini aku tengah menyusun ver.PASTE yang mudah-mudahan akan lebih layak untuk konsumsi massa. Aku sudah membuat beberapa skema untuk memperbanyak interaksi antar karakter dan memotong narasi-narasi Hawe yang terlalu berlebih. Temanku menyarankan untuk memperbanyak adegan aksi. Tapi secara pribadi aku merasa nuansa horor akan lebih efektif diterapkan dalam cerita. Jadi mungkin revisi ini baru kulakukan secara aktif begitu Tantangan Horor dari Tsukiya Arai selesai kubereskan. (Tentu saja ada juga ver.CUT, tapi itu isinya hanya potongan-potongan cerita yang tak jadi kupakai.)

Aku mohon doanya agar dengan ini aku bisa semakin tumbuh menjadi lebih baik.

Kriteria-kriteria Fiksi Bagus

  1. Mudah dibaca, baik dari segi pemilihan kata ataupun layout.
  2. Logika cerita dan keterkaitan detil yang kuat
  3. Keunikan ide
  4. Kekuatan kata
  5. Twist dan ending

(dari Mbak Dian K.)